Beranda Berita Benteng Marlborough dan Kisah Helen yang Menyeramkan

Benteng Marlborough dan Kisah Helen yang Menyeramkan

485
BERBAGI
Depan Benteng Marlborough.
Depan Benteng Marlborough.

PROBENGKULU.COM – Benteng Marlborough adalah benteng peninggalan Inggris yang terletak di Kota Bengkulu. Fort Marlborough adalah salah satu benteng terbesar di Asia Tenggara yang didirikan oleh East India Company (EIC) tahun 1713-1719 di bawah pimpinan Gubernur Joseph Callet.

Konon, benteng ini merupakan benteng terkuat Inggris di wilayah Timur setelah benteng St. George di Madras, India. Benteng ini didirikan di atas bukit buatan, menghadap ke arah kota Bengkulu dan memunggungi Samudera Hindia.

Di makam pertama terbaring jasad Residen Thomas Parr yang mati dibunuh pada 23 Desember 1807 oleh rakyat Bengkulu. Di sebelahnya dimakamkan pegawainya, Charles Murray, yang berusaha menyelamatkan Thomas Parr, namun terluka dan meninggal. Sedangkan makam yang satunya lagi tidak dikenal.

Kini, benteng yang angker itu sudah dipugar dan jadi tempat wisata yang cukup ramai dikunjungi. Padahal, pada awal 1714, benteng ini begitu menakutkan.

Benteng ini menghadap ke selatan dan memiliki luas sekitar 44.100 meter persegi. Dari atas sudut benteng inilah kita bisa menikmati pemandangan berupa hamparan laut lepas biru dilengkapi pohon cemara pada sepanjang pantai Tapak Padri yang bersambung ke Pantai Panjang Bengkulu.

Jika dilihat dari udara, maka benteng ini akan terlihat berbentuk seperti kura-kura. Konon, Benteng Marlborough merupakan bandar utama pelabuhan laut, dari benteng inilah Inggris dengan leluasa mengontrol keluar masuknya kapal menuju Bengkulu.

Benteng ini diakui ahli sejarah merupakan benteng peninggalan Inggris terbesar di Asia Tenggara, tujuan dibuatnya benteng adalah sebagai basis pertahanan militer Inggris. Seiring dengan kuatnya cengkraman Inggris di Bengkulu, fungsi benteng berubah menjadi kepentingan perdagangan.

Benteng dijadikan tempat koordinasi bagi kelancaran suplai lada bagi perusahaan dagang Inggris, East Indian Company, dan pusat pengawasan jalur pelayaran dagang yang melewati Selat Sunda.

Di gerbang pintu masuk sebelah kanan dan kiri terdapat dua koridor yang sekarang telah berubah fungsi menjadi meja penyambutan pengunjung. Dahulu koridor tersebut sebagai tempat tahanan para pejuang rakyat Indonesia. Presiden RI pertama Soekarno, pernah ditahan di ruangan itu.

Di dalam sel tahanan ada satu lukisan kompas yang dipahat pada tembok penjara, ada beberapa catatan tertinggal di dekat lukisan kompas itu, catatan tersebut menceritakan betapa perihnya perasaan hati para tahanan selama mereka dipenjarakan oleh Inggris.

Memasuki pada badan benteng kita akan menemukan lapangan berbentuk segi empat seluas setengah lapangan sepak bola, ada dua terowongan di pojok depan dan sebelah kiri benteng.

Ada yang berasumsi terowongan tersebut tembus hingga Pantai Panjang Bengkulu, sebagai jalan keluar militer Inggris bila terkepung, namun ada pula yang beranggapan terowongan itu buntu. Selanjutnya, ada beberapa ruangan di dalam benteng, ruangan besar yang berlapis batu bata tebal di sinilah tempat tinggal para perwira tinggi Inggris dan keluarga.

Terdapat pula beberapa gudang penyimpanan mesiu, seperti senapan, meriam, dan pelurunya.

Pada 17 maret 1824, Belanda menyerahkan Malaka dan Semenanjung Melayu kepada Inggris. Sedangkan, Inggris menyerahkan kekuasaannya di Bengkulu dan seluruh kepemilikannya pada pulau Sumatera kepada Belanda.

Perjanjian tersebut dilakukan pada 17 Maret 1824 di London, dikenal dengan traktat London. Pada perjanjian itu Belanda diwakili oleh Hendrik Fagel dan Anton Reinhard Falck, sedangkan Inggris diwakili oleh George Canning dan Charles Watkins Williams Wynn. Ini untuk mempermudah Inggris dan Belanda dalam mengontrol wilayah jajahan masing-masing.

Saat itu sebagian besar jajahan Inggris di Semenanjung Melayu, dan Belanda di Idnonesia. Secara resmi Benteng ini dibuka untuk umum pada tanggal 24 April 1984. Beberapa perubahan kecil terjadi yang merubah bentuk dan keorisinilannya.

Benteng ini selain berdekatan dengan samudera, juga dikelilingi kawasan wisata pecinan dan satu vihara.

Selain menunjukkan sosok angkuh dan angker, berbagai kisah mistis melingkupi Benteng Marlborough.

Mulai dari pintu masuknya saja, ada parit penuh jebakan yang mengelilingi benteng.

Tidak sampai di situ, ada juga lorong yang dahulu sempat menjadi bekas ruang penjara. Dari sekian ruang tahanan, ada sebuah tembok berdarah yang menjadi saksi bisu dari seorang tahanan Belanda yang sempat ditahan di situ.

Tahanan itu menggurat dan menulisi tembok dengan darahnya. Namun mungkin karena sudah tua, warna temboknya menjadi coklat dan bukan merah. Gambarnya pun berupa empat arah mata angin dalam bahasa Belanda bertuliskan curhat penderitaan si tahanan.

Yang tidak kalah menyeramkan, juga ada kisah penampakan yang cukup populer di Benteng Marlborough. Yakni penampakan seorang wanita Inggris bernama Helen di ruang bawah tanah.

Alkisah ada seorang perempuan Inggris bernama Helen yang jatuh cintah dengan pria lokal, sampai pindah agama dan berganti nama menjadi Helen Nurhayati. Keluarganya marah dan mengurung Helen di ruang bawah tanah Benteng Marlborough.

Helen meninggal dalam penahanan. Nah, beberapa pengunjung dan penjaga benteng konon pernah melihat penampakan perempuan bule yang mengenakan pakaian putih ala orang Eropa. Biasa penampakannya terlihat menjelang maghrib.

Walau punya sejumlah kisah mistis nan menyeramkan, Benteng Marlborough punya banyak spot asyik untuk berfoto. Contohnya seperti di pintu besar gerbang pertama, bagian jeruji, barak tentara, taman hingga bastion yang menghadap laut. (adm1/berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.